MHNEWS.ID.- Bupati Lucky Hakim melepasliarkan ular, burung hantu, hingga biawak ke area persawahan di beberapa kecamatan wilayah Kabupaten Indramayu.
Pelepasan ratusan ular bertujuan untuk mengendalikan hama tikus yang merajalela sekaligus memulihkan ekosistem persawahan di Indramayu.
Banyak yang bertanya, apakah melepasliarkan ular, burung hantu, atau biawak di areal persawahan efektif mengendalikan hama tikus?
Menanggapi hal itu, pakar herpetologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amir Hamidy mengatakan, ular menjadi predator alami paling efektif dalam mengendalikan populasi tikus di persawahan.
Ular memiliki keunggulan dalam berburu tikus karena kemampuannya dalam mendeteksi bau tikus melalui organ Jacobson. Ular juga memiliki bentuk tubuh silinder yang memungkinkan masuk ke dalam lubang tikus.
“Tikus bagian dari rantai ekosistem (persawahan yang merupakan) buatan manusia, karena dia (tikus) memang makan, merusak padi,” papar Amir sebagaimana di tulis Kompas.com.
“Karena ini tanaman monokotil, ya otomatis kemudian populasi tikus banyak, dan itu merugikan secara ekonomi. Predator alaminya paling efektif itu sebenarnya ya ular,” sambungnya, Selasa (19/8/2025).
Ular terbukti efektif basmi tikus
Meski pun jenis ular koros dan lanang sapi aktif pada siang hari (diurnal), tetapi mampu berburu tikus yang aktif pada malam hari (nokturnal) karena kemampuannya untuk masuk ke dalam lubang dan mendeteksi keberadaan tikus.
Selain ular, burung hantu juga dapat berperan sebagai predator alam untuk memberantas tikus. Namun efektivitas burung hantu terbatas karena nokturnal atau bersamaan dengan aktivitas tikus.
Sedangkan kobra yang nokturnal, kata dia, kurang ideal untuk dijadikan predator alami dalam membasmi tikus lantaran berbisa.
Ular lanang sapi dan ular koros tidak akan mengganggu ekosistem persawahan. Ia menganggap ular lanang sapi dan ular koros sebenarnya memang bagian dari ekosistem persawahan.
Penulis: Wawan Idris


