mhnews.id.- Pemerintah Kabupaten Indramayu akan terus melestarikan budaya atau kearifan lokal, salah satunya Tradisi Bobotan yang telah hidup dan dijalankan masyarakat sejak puluhan tahun lalu.
Tradisi Bobotan ini setidaknya berkembang pada kisaran tahun 1960-1980. Namun seiring berkembangnya budaya modern, tradisi yang banyak mengandung filosofis ini pun ditinggalkan.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Indramayu, Uum Umiati mengatakan, saat ini hanya sebagian kecil masyarakat yang masih melaksanakan Tradisi Bobotan.
“Saat ini, upacara Bobotan dapat dikatakan nyaris punah, karena hanya masyarakat di Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu saja yang masih melaksanakan tradisi tersebut,” jelas Uum, saat kegiatan sarasehan Tradisi Bobotan di halaman kantor Disdikbud Indramayu, Kamis (15/9).
Dijelaskan, istilah Bobotan dalam Bahasa Jawa artinya berat. Bobotan berasal dari kayu milik Buyut Babar, namanya Kayu Bobotan. Kayu ini menjadi alat yang digunakan dalam Upacara Bobotan.
“Kayu Bobotan sampai sekarang masih ada. Disimpan penduduk setempat dan keluarganya yang berada di tempat yang jauh,” tutur Uum.
Upacara Bobotan dilaksanakan apabila memiliki anak pertama laki-laki dan anak bungsu laki-laki. Melalui Upacara Bobotan, memohon kepada Alloh Ta’alla menyelamatkan jiwa keduanya.
Ada pun cara pelaksanaan Bobotan, yaitu keduanya ditimbang dibobot dengan kayu Bobotan. Supaya seimbang, timbangan sebelumnya diberi tambahan berat yang sama.
Selain itu, upacara ini juga dilaksanakan apabila memilih anak tunggal laki-laki/perempuan, yaitu hanya memiliki satu anak laki-laki atau satu anak perempuan.
Upacara Bobotan juga dilakukan apabila satu keluarga memiliki tiga orang anak, tapi anak yang kedua sudah meninggal atau anak yang diselang dengan yang sudah meninggal.
“Tujuan upacara ini adalah untuk mencari keberkahan dari Alloh Azza wa Jalla, terhindar segala marabahaya, musibah, dan agar mendapat keselamatan di dunia dan akhirat,” tuturnya.
Selain itu, sebagai cara untuk memupuk kerukunan, kebersamaan, keharmonisan, persaudaraan dalam keluarga. Juga agar anak mendapatkan keselamatan, perlindungan, dan kemuliaan.
Penulis : Rohman
Editor : Wawan Idris




