Disebut demikian karena Bujanggaan dan pembacaan naskah kuno diperlukan keterampilan penguasaan nada yang khas, penghafalan terhadap metrum tertentu, dan juga pembacaan terhadap aksara-aksara lokal.
Iskandar Zulkarnaen, penulis buku Wiralodra dalam Arsip Kolonial dan Naskah Kuno dalam paparannya mengatakan, dari aspek sejarahnya, tradisi Bujanggaan menjadi salah satu media yang efektif untuk meluruskan fakta-fakta sejarah tentang Indramayu.
“Bagaimanapun juga tradisi Bujanggaan memiliki peranan penting dalam pewarisan sejarah, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa seiring berjalannya waktu, muncul fakta-fakta baru dalam penulisan sejarah Indramayu,” paparnya.
Sedangkan Supali Kasim, pegiat sastra daerah Indramayu menuturkan, pelestarian tradisi Bujanggaan tidak hanya bentuknya saja melainkan juga melalui ragam transformasi yang relevan dengan perkembangan zaman.


