29.8 C
Indramayu
Kamis, Mei 21, 2026


Haruskah Pembelajaran Mendalam?

Oleh Dr. Supriyanto Dj. Manguntaruno
E-mail: [email protected]

SALAH satu pendekatan dalam menyampaikan dokumen isi (standar isi) Kurikulum Merdeka, diantaranya adalah Pendekatan Mendalam (deep learning).

- Advertisement -

Ini mengemuka dalam kerangka berpikir bahwa pendekatan lainnya diasumsikan belum atau kurang mampu membumikan dokumen isi kurikulum merdeka kepada para peserta didik.

Padahal tantangan pendidikan Indonesia semakin kompleks, sementara era pembangunan yang terjadi merupakan situasi dan kondisi yang penuh ketidakpastian dengan dinamika global yang semakin cepat berubah.

Karena itu, pemerintah kita kemudian mengeluarkan kebijakan tentang pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam). Apa sih yang baru dalam pendekatan ini?

Sebenarnya memang tidak baru juga sih. Pendekatan mendalam sudah lama dikenal. Semula memang lebih banyak digunakan dalam dunia komputer.

Namun, seiring waktu dan seiring meluasnya implikasi deep learning, penggunaan pendekatan ini pun sampai pada proses pembelajaran di berbagai lembaga pelatihan, pengajaran, dan pendidikan.

Selama ini deep learning sering diperhadapkan dengan surface learning. Keduanya memiliki perbedaan yang nyata dan bisa menjadi alasan mengapa penyampaian materi tertentu lebih layak menggunakan salah satu pendekatan tersebut.

Perbedaan di antara keduanya terkait dengan aspek tujuan belajar, fokus, pendekatan, peran peserta didik (siswa), peran guru, keterampilan yang dikembangkan, dan dampak jangka panjangnya.

Jika pemerintah sudah membuat kebijakan melalui berbagai regulasi yang dikeluarkan, maka para pelaksana di tingkat satuan pendidikan, tidak ada waktu lagi untuk menyanggah.

Baca Juga :  Menyedihkan! Mutu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Indramayu 60,83 % “Tidak Berkualitas”

Proses penolakan atau keberatan sebaiknya memang sudah terjadi sejak proses kebijakan itu dirancang oleh para ahli.

Para pelaksana proses pendidikan di berbagai satuan pendidikan, agaknya tidak merugi jika berpersepsi bahwa para pengambil kebijakan, yang tentunya lebih terdidik-terlatih-teruji secara pengalaman, telah mengambil keputusan secara matang: pemberlakuan pendekatan mendalam.

Ada banyak kelebihan pembelajaran mendalam dibanding bukan pembelajaran mendalam yang dijanjikan bisa didapat jika kita melaksanakannya.

Sebutlah misalnya di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), terdapat banyak keuntungan atau kelebihan pembelajaran mendalam yang bisa diperoleh, tentu jika deep learning ini dilaksanakan secara benar dan tuntas.

Kelebihan-kelebihan tersebut di antaranya:

Pertama, pemahaman konsep para peserta didik menjadi lebih kuat. Ini terjadi karena peserta didik tidak hanya menghafal materi pelajaran, tetapi mereka juga memahami mengapa dan bagaimana sesuatu itu bisa terjadi.

Dalam pembelajaran fisika (IPA), misalnya peserta didik tidak hanya mengetahui pengertian dan rumus gravitasi bumi, tetapi juga memahami mengapa berbagai jenis benda dapat jatuh ke bumi, serta bagaimana pengaruh hal itu dalam kehidupan sehari-hari peserta didik, sedemikian sehingga mereka dapat menerapkan konsep gravitasi bumi dalam kehidupan nyata sehari-hari mereka.

Kedua, deep learning dipercaya dapat cara mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS) sehingga menambah kompetensi mereka tidak sekadar lower order thinking skills/LOTS yang cenderung menekankan hafalan.

Baca Juga :  Catatan dari Menara Peninsula: Masihkah “Menjual PISA dan TIMMS” untuk Membeli Program Literasi dan Numerasi?

Dengan deep learning peserta didik dilatih untuk mampu melakukan analisis, evaluasi, dan melahirkan solusi atas masalah yang mereka hadapi. Ini jelas mendukung pemenuhan kompetensi keterampilan abad 21 yang menekankan pentingnya kreativitas dan kolaborasi.

Ketiga, seperti telah disinggung pada kelebihan yang pertama, deep learning selalu mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata para peserta didik.

Hal inilah yang membuat pembelajaran lebih bermakna. Misalnya, para peserta didik mempelajari perhitungan ekonomi dengan membuat perencanaan anggaran kegiatan pentas kelas di kelas mereka, atau kegiatan lainnya yang biasa diadakan di sekolah.

Keempat, deep learning lebih mendorong para pesrrta didik untuk mampu mandiri dan selalu mengembangkan rasa ingin tahu lebih luas.

Proses ini akan berlajan jika guru tidak terbiasa memberi penjelasan, tetapi selalu memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi untuk menjelaskan atau menjawab pertanyaan mereka.

Kelima, lebih meningkatkan retensi jangka panjang. Kelebihan ini terkait dengan dampak waktu dari proses pembelajaran.

Mungkin tidak sedikit yang pernah mengalami bahwa suatu penguasaan materi cepat hilang kembali setelah menjalani proses ujian dan sulit mengaitkan kembali jika berhadapan dengan materi baru. Ini dampak buruk dari hafalan.

Baca Juga :  Segera Dibuka Formasi PPPK Indramayu untuk Guru, Kesehatan, dan Tenaga Teknis Lainnya

Namun, dengan deep learning para ahli pembelajaran percaya bahwa pendekatan mendalam akan membuat materi yang dipelajari lebih melekat di benak, dapat mudah diterapkan pada situasi baru, dan membentuk peserta didik sebagai pembelajar mandiri.

Itulah sebabnya, deep learning dipercaya dapat meningkatkan retensi jangka panjang karena pemahaman dibangun dengan koneksi antar-konsep, sehingga pengetahuan akan menjadi lebih mudah diingat dan mudah digunakan di masa lain ketika berhadapan dengan konsep baru.

Keenam, lebih membiasakan kolaborasi dan komunikasi. Ini terjadi karena deep learning sesuai konsepnya harus lebih banyak dijalankan sebagai sebuah proyek yang harus dilakukan secara berkelompok.

Hal ini akan membuat para peserta didik terlatih untuk melakukan keterampilan berbicara atau komunikasi lainnya, lebih bisa berempati, dan bekerja sama dengan orang lain.

Ketujuh, membuat peserta didik lebih termotivasi untuk belajar. Dalam pendekatan deep learning para peserta didik aktif untuk mencari, bertanya, berdiskusi dan mencoba (tidak hanya pasif menerima informasi dari guru).

Guru bukan pemateri utama, tapi lebih menjadi fasilitator dan pembimbing bagi proses berpikir peserta didik.

Itulah sebabnya para peserta didik akan merasa bahwa proses pembelajaran relevan bagi mereka, terasa menantang, bermanfaat, sehingga minat belajar mereka tanpa disadari akan tumbuh secara alami.***

 

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

Berita Terpopuler