MHNEWS.ID.- Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Didi Sukyadi menyatakan bullying kini menjadi persoalan krusial dalam sistem pendidikan di Indonesia.
Didi juga menilai perundungan atau bullying semakin meresahkan dunia pendidikan, dengan pola yang tidak lagi hanya terjadi secara fisik, tetapi juga meluas ke ranah digital.
Akibat bullying telah menelan korban jiwa. Artinya fenomena ini sangat serius. Namun sayangnya pemahaman mengenai dampak serius bullying terhadap korban belum sepenuhnya merata.
“Saya tidak mengikuti detilnya ya, tetapi bagi saya ini merupakan bagian penting dari sistem pendidikan kita,” ujar Didi Sukyadi sebagaimana dilansir Kompas.com.
“Jadi sebetulnya kalau terkait bullying, sudah ada langkah-langkah yang dilakukan. Tetapi mungkin belum semua paham bahwa perilaku itu menimbulkan dampak yang serius bagi si korban,” sambungnya.
Didi menjelaskan bahwa bullying tidak selalu berbentuk kekerasan fisik; perilaku mengejek pun dapat dikategorikan sebagai perundungan, tergantung pada respons korban.
“Jadi ada yang mengatakan kalau seseorang mengejek orang lain kemudian dua-duanya ketawa, ketawa-ketawa, itu bukan bullying. Kalau yang satu ketawa, yang satu lagi cemberut, itu kan bisa termasuk disebut bullying,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa bullying di era modern ini jauh lebih mengkhawatirkan karena melibatkan ruang digital dan media sosial, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa.
“Bullying sekarang ini, sudah sampai pada tahap yang sangat menggelisahkan. Sampai jatuh korban jiwa. Bahkan di Perguruan Tinggi sendiri ada mahasiswa saya, di sini di bahasa Inggris, yang meninggal gara-gara bullying,” ungkapnya.
Kasus yang terjadi dua hingga tiga tahun lalu itu disebabkan korban tidak hanya mengalami perundungan di lingkungan kelas, tetapi juga di media sosial, yang berujung pada sakit hingga meninggal dunia.
“Yang bersangkutan dibully tidak hanya di kelas, tetapi di medsos juga di bully,” katanya.
Penulis: Wawan Idris


