ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Aku membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian
Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dalam hadits agung yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a.. Dalam hadits itu Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Aku membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian …” [H.R. Muslim, No. 395].
Hadits ini menunjukkan bahwa Al-Fatihah adalah inti shalat. Sebagai intinya, maka setiap shalat Al-Fatihan wajib dibaca (saat shalat sendirian). Dengan membaca Al-Fatihah kita sedang berdialog langsung dengan Allah Azza wa Jalla.
Sesuai hadist di atas dalam Al-Fatihah dibagi dua bagian: pertama, pujian hamba kepada Rabbnya atau mengagungkan Rabbnya dan permintaan atau permohonan (doa) hamba kepada Rabbnya.
Ketika seorang hamba memuji Rabbnya dengan mengucapkan, “Alḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn”. (Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam).
Allah Azza wa Jalla menjawab, “Hamba-Ku memuji-Ku.” [H.R. Muslim].
Lalu saat membaca ayat atau kita berkata, “Ar-raḥmānir-raḥīm. “(Allah) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Allah Azza wa Jalla kembali menjawab, “Hamba-Ku menyanjung-Ku.”
Kita memuji—Allah Azza wa Jalla menerima pujian itu. Kita mengagungkan-Nya, dan Allah Azza wa Jalla meneguhkan pengagungan itu. Betapa dekatnya Dia kepada kita, bahkan pada detik-detik shalat yang sering kita lalaikan.
Ketika seorang hamba membaca ayat atau berkata, “Māliki yaumid-dīn. Penguasa Hari Pembalasan.”
Allah Azza wa Jalla berfirman, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” (Dalam riwayat lain, “Hamba-Ku menyerahkan urusannya kepada-Ku.”
Di sini, seorang hamba seperti berkata, “Ya Allah, Engkaulah pemilik seluruh keputusan. Aku pasrah.”
Dan, Allah Azza wa Jalla menjawab dengan kasih sayang-Nya, “Aku terima kepasrahanmu.”
Ayat ini adalah inti dialog, “Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn. Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Allah Azza wa Jalla menjawab, “Ini antara Aku dan hamba-Ku; dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
Ayat ini dibagi dua:
Iyyāka na’budu → untuk Allah Azza wa Jalla: janji ibadah kita.
wa iyyāka nasta’īn → untuk hamba: jaminan pertolongan Allah Azza wa Jalla.
Di sinilah hubungan hamba dengan Rabb mencapai puncaknya: kita menyerahkan hidup, Allah Azza wa Jalla menjamin bimbingan.
Lalu saat kita berdoa, “Ihdinaṣh ṣhirāṭhal mustaqīm. Tunjukkan kami jalan yang lurus…”
Allah Azza wa Jalla berfirman (menjawab), “Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
Dari dialog tersebut, betapa pemurahnya Allah Azza wa Jalla: setiap kali kita meminta petunjuk, Ia mengabulkannya. Setiap kali kita memohon jalan lurus, Ia bukakan, dan setiap kali kita jatuh, Ia tarik kembali kepada-Nya.
Jika menyadari ini (kepemurahan Alloh Azza wa Jalla), maka seharusnya kita tidak membaca Al-Fatihah dengan terburu-buru, melainkan dengan tartil dan penuh penghayatan. Semoga bermanfaat.
Penulis : Wawan Idris
Sumber: (1) Tafsir Al-Qur’ān Al-Azhīm (Imam Ibnu Katsir), (2) Tafsir Al-Mishbah (Prof. Dr. Quraish Shihab), (3) Madārij As-Sālikīn (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah).


