“Setelah dilakukan pengamatan, ternyata anak sapi ini terserang virus PMK. Sebagian besar anak sapi yang mati ini milik peternak di Jatisura yaitu mencapai 109 ekor, sisanya milik peternak dari desa lain di kecamatan berbeda,” papar Dian Daju kepada mhnews.id., Kamis (25/8).
Lebih lanjut Dian menjelaskan, PMK yang menyerang anak sapi di Desa Jatisura, salah satunya karena faktor pemeliharaan yang tidak mematuhi protokol kesehatan hewan. Sebagian besar peternak di Jatisura menerapkan pola “angon” untuk menggembalakan sapi-sapinya. Pola ini sudah membudaya di lingkungan peternak sapi di Jatisura.
Pola “angon” atau membiarkan hewan sapi mencari makanan rumput di lapangan sangat rentan terhadap masuknya virus PMK melalui mulut dan kaki hewan.
“Budaya peternak di Jatisura ini, kan hewan sapi diangon, dibiarkan liar mencari makanan rumput di lapangan. Nah, ini yang mengakibatkan anak-anak sapi mudah terkena PMK, kan masuk dari mulutnya,” terang drh. Dian Daju.


