30.7 C
Indramayu
Rabu, April 22, 2026


Solusi Atasi Hama Tikus: Dari Trap Barrier System sampai Rodentisida

MHNEWS.ID.- Bupati Indramayu, Lucky Hakim belum lama ini menglepasliarkan ratusan ular ke areal persawahan dengan tujuan mengendalikan hama tikus.

Dalam rantai makanan, ular memang menjadi pemangsa tikus. Namun efektifkah ular mengatasi serangan hama tikus pada ribuan hektar lahan padi para petani Indramayu itu?

- Advertisement -

Selain dengan ular mengendalikan hama tikus dapat juga dilakukan dengan cara berikut ini. Selamat mencoba!

1. Tanam dan panen serempak

Dalam satu hamparan, diusahakan selisih waktu tanam dan panen tidak lebih dari 2 minggu. Hal tersebut untuk membatasi tersedianya pakan padi generatif, sehingga tidak terjadi perkembangbiakan tikus yang terus menerus.

2. Sanitasi habitat

Dilakukan selama musim tanam padi, yaitu dengan cara membersihkan gulma dan semak-semak pada habitat utama tikus: tanggul irigasi, jalan sawah, batas perkampungan, pematang, parit, saluran irigasi

Juga dilakukan minimalisasi ukuran pematang (tinggi dan lebat pematang) kurang 30 cm agar tidak digunakan sebagai tempat bersarang.

  1. Gerakan bersama (gropyokan massal).

Gerakan ini dilakukan serentak pada awal tanam melibatkan seluruh petani. Gunakan berbagai cara untuk menangkap/membunuh tikus seperti penggalian sarang, pemukulan, penjeratan, pengoboran malam, perburuan dengan anjing.

Baca Juga :  Berpotensi Tingkatkan Produksi Padi, Kementerian Pertanian Diminta Membangun Bendungan di Desa Jatimunggul

4. Fumigasi/pengemposan

Fumigasi dapat efektif membunuh tikus dewasa beserta anak-anaknya di dalam sarang.

Agar tikus mati, tutuplah lubang tikus dengan lumpur setelah difumigasi dan sarang tidak perlu dibongkar. Lakukan fumigasi selama masih dijumpai sarang tikus terutama pada stadium generatif padi.

5. Trap Barrier System (TBS)

TBS dengan tanaman perangkap diterapkan terutama di daerah endemik tikus dengan pola tanam serempak. TBS berukuran 20 x 20 m dapat mengamankan tanaman padi dari serangan tikus seluas 15 ha.

6. Linier Trap Barrier System (LTBS)

LTBS berupa bentangan pagar plastik/terpal setinggi 60 cm, ditegakkan dengan ajir bambu setiap jarak 1 m, dilengkapi bubu perangkap setiap jarak 20 m dengan pintu masuk tikus berselang-seling arah.

LTBS dipasang di daerah perbatasan habitat tikus atau pada saat ada migrasi tikus. Pemasangan dipindahkan setelah tidak ada lagi tangkapan tikus atau sekurang-kurangnya di pasang selama 3 malam.

7. Memanfaatan musuh alami

Cara termudah ini adalah dengan tidak mengganggu atau membunuh musuh alami tikus sawah, khususnya pemangsa, seperti burung hantu, burung elang, kucing, anjing, ular tikus, dan lain-lain.

Baca Juga :  Dirut Perum Bulog, Budi Waseso Geram: Top Banget! Mafia Beras Ternyata Selalu Rapat di Dekat Kantor Bulog

8. Rodentisida

Merupakan cara kedelapan ini, digunakan hanya apabila populasi tikus sangat tinggi terutama pada saat bera atau awal tanam.

Penggunaan rodentisida harus sesuai dosis anjuran. Umpan ditempatkan di habitat utama tikus, seperti tanggul irigasi, jalan sawah, pematang besar, atau tepi perkampungan.

9. Cara pengendalian lokal lainnya.

Dengan memanfaatkan cara pengendalian tikus yang biasa digunakan petani setempat, seperti penggenangan sarang tikus, penjaringan, pemerangkapan, bunyi-bunyian, dan cara-cara lainnya.

Penulis: Wawan Idris

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

Berita Terpopuler