MHNEWS.ID.- Menguap terus-terusan terjadi saat seseorang mengalami kantuk luar biasa pada siang hari meski tubuh butuh kewaspadaan tinggi. Menguap berlebihan seperti itu bukan tindakan biasa.
Menguap berlebihan dikaitkan dengan kondisi kekurangan tidur yang lebih serius, diberitakan Times of India, Selasa (15/4/2025).
“Mengantuk adalah masalah kesehatan serius dengan konsekuensi yang luas,” kata Presiden AASM dokter Eric Olson yang terlibat dalam penelitian.
Menguap dan rasa kantuk merupakan tanda kurang tidur yang dilaporkan menjadi gejala pertama pasien dengan gangguan tidur, seperti narkolepsi dan apnea tidur onstruktif.
Menguap berlebihan karena rasa kantuk dapat pula terjadi akibat efek samping kondisi medis, penggunaan obat-obatan, dan gaya hidup yang membuat kurang tidur kronis.
Rasa kantuk juga membuat tidak fokus, terlambat bereaksi, mudah emosi, frustasi, rewel, dan khawatir saat berada dalam situasi sosial.
Mengantuk dan kurang tidur pun berisiko mengakibatkan kecelakaan saat mengemudi, kesalahan di tempat kerja, serta risiko kesehatan jangka panjang.
Kantuk dikaitkan dengan risiko gangguan kognitif, kecelakaan di tempat kerja atau saat mengemudi, serta masalah kesehatan mental, seperti depresi dan keinginan bunuh diri.
Selain itu, rasa kantuk dikaitkan dengan perkembangan atau memburuknya diabetes, depresi, penyakit jantung dan ginjal, tekanan darah tinggi, obesitas, serta stroke.
Setiap orang seharusnya mendapatkan tidur malam berkualitas setidaknya selama 7-8 jam agar tidak mengantuk dan menguap terus keesokan harinya.
Bahaya kantuk dan menguap berlebihan dapat dicegah dengan mendapatkan tidur yang cukup setiap hari sesuai usia. Misalnya, anak sekolah butuh tidur 8-12 jam sehari. Sementara orang dewasa perlu tidur setidaknya 7-9 jam per malam.
Penulis: Nia Herlina [Pengurus PKK Kabupetan Indramayu]


