30.2 C
Indramayu
Minggu, April 19, 2026


Waspada DBD, Rengut Banyak Nyawa: Belum ada Obatnya, Lakukan 3M Plus

MHNEWS.ID.- Banyak orang yang meremehkan penyakit demam berdarah dengue, padahal penyakit ini belum ada obatnya dan telah banyak menimbulkan kematian.

Data tahun 2024 menunjukkan, ada 1.400 korban meninggal akibat DBD yang mencatatkan kasus tertinggi dalam sejarah penyakit ini di Indonesia.

- Advertisement -

Ketua Tim Kerja Arbovirosis, Kementerian Kesehatan RI, dr.Fadjar S.M. Silalahi mengatakan, dengue adalah penyakit yang bisa mengancam nyawa dan korban terbanyak adalah anak-anak.

“DBD jangan dianggap sebagai penyakit demam biasa supaya penanganannya tidak terlambat. Data menunjukkan kematian penyakit ini sebagian besar karena terlambat mendapat penanganan,” katanya.

Fadjar menjelaskan hal itu dalam acara bertajuk Waspada DBD: Lindungi Keluarga, Selamatkan Masa Depan, yang digelar oleh Takeda Innovative Medicine di Jakarta (23/4).

Ia mengatakan, sampai dengan bulan Maret 2025 memang ada penurunan kasus DBD, tetapi dengan pola perubahan cuaca penyakit ini harus diwaspadai sepanjang tahun.

Dokter spesialis penyakit dalam Dirga Sakti Rambe mengatakan musim hujan memang menjadi puncak penularan DBD, tetapi ia hampir setiap hari menemukan pasien DBD dalam praktiknya.

Baca Juga :  Dewan Juri Lomba Penyuluhan Dokcil Terpukau Penampilan dan Kecakapan Para Dokter Kecil Indramayu

“Kondisinya bervariasi, ada yang ringan dan bisa rawat jalan, tapi ada juga yang penyakitnya berat dan harus masuk ICU. Dengue bisa berkembang cepat dan menimbulkan komplikasi berat,” katanya dalam acara yang sama.

Perburukan DBD bisa menyebabkan dengue shock syndrome dan penurunan drastis jumlah trombosit yang beresiko terjadinya perdarahan otak.

“Penyakit DBD belum ada obatnya, perawatan di rumah sakit hanya memberikan terapi suportif seperti pemberian cairan, antimual, dan penurun demam. Naik turunnya trombosit tidak bisa diprediksi. Karena itu lebih baik melakukan pencegahan,” tutur dr.Dirga.

Pencegahan ini harus menyeluruh, dimulai dari mengendalikan vektor nyamuk dengan 3M Plus dan edukasi yang berkelanjutan

Yang tidak kalah penting adalah menambah perlindungan menggunakan metode yang inovatif seperti vaksinasi yang sekarang telah mendapatkan ijin dari BPOM Indonesia.

Vaksin DBD bisa diberikan untuk anak usia 6 tahun sampai orang dewasa berusia 45 tahun. Vaksin diberikan dalam dua dosis dengan interval 3 bulan. Perlindungan dari vaksin akan menurunkan angka keparahan penyakit.

Baca Juga :  Jangan Sepelekan Khasiat Jeruk, Studi: Terbukti bisa Membantu Kurangi Risiko Depresi

3M Plus belum dilaksanakan

Fadjar menyebutkan, program pencegahan DBD berupa 3M Plus sudah sering dikampanyekan dan masyarakat memahaminya, tapi belum melaksanakannya.

“Jadi bukan programnya yang salah, tapi menumbuhkan kesadaran bahwa pencegahan penyakit ini adalah tanggung jawab semua pihak, bukan cuma Puskesmas atau dinas kesehatan,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri Kesehatan Prof.Dante Saksono Harbuwono mengingatkan bahwa WHO memiliki target nol kematian akibat penyakit dengue di tahun 2030.

“Untuk mencapainya yang penting adalah pencegahan penyakit dan terapi pengobatan lebih dini,” ujarnya sebagaiman ditulis Kompas.com.

Untuk memperluas edukasi pencegahan DBD, Takeda meluncurkan video edukatif terbaru, situs web interaktif, dan kanal WhatsApp.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht mengatakan peluncuran berbagai kanal informasi dengan bahasa yang lebih mudah dipahami bertujuan untuk menjangkau lebih banyak lagi masyarakat.

“Setiap orang memiliki preferensi yang berbeda dalam mendapatkan informasi kesehatan. Ada banyak informasi tentang dengue di luar sana, sebagian orang lebih suka membacanya melalui IG,” ujarnya.

Baca Juga :  Virus HKU5 jadi Ancaman Pandemi Baru, Lebih Berbahaya daripada Covid-19

“Namun sebagian lebih suka mendapatkannya dari TikTok, atau membacanya di situs web. Ini hanyalah saluran lain yang merupakan cara interaktif untuk menyediakan informasi tersebut,” sambungnya.

Menurutnya edukasi menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya bertindak saat dengue mewabah, tetapi paham pentingnya pencegahan sejak dini.

Penulis: Nia Herlina [Pengurus PKK Kabupaten Indramayu]

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

Berita Terpopuler