MHNEWS.ID.- Jerawat yang muncul menjelang menstruasi bukanlah kebetulan, banyak wanita mengalaminya sebagai bagian dari perubahan hormonal bulanan.
Meskipun umum terjadi, jerawat hormonal sering kali terasa membandel dan sulit dikendalikan.
Memahami bagaimana setiap fase siklus menstruasi memengaruhi kulit, kamu bisa mengambil langkah proaktif untuk mencegah dan mengatasi jerawat dengan lebih efektif.
Simak penjelasan tentang hubungan jerawat hormonal dan siklus menstruasi, dikutip dari laman Byrdie sebagaimana ditulis Kompas.com.
1. Peran hormon dalam jerawat
Fluktuasi hormon, terutama androgen seperti testosteron, memainkan peran kunci dalam produksi sebum (minyak kulit).
Peningkatan kadar androgen merangsang kelenjar sebaceous untuk menghasilkan lebih banyak sebum yang dapat menyumbat pori-pori dan menyebabkan jerawat.
2. Fase siklus menstruasi dan dampaknya pada kulit
Fase Folikular (Hari 1–13): Dimulai pada hari pertama menstruasi, kadar estrogen meningkat secara bertahap, membantu mengurangi produksi minyak dan meningkatkan elastisitas kulit.
Ovulasi (Sekitar Hari 14): Estrogen mencapai puncaknya, dan terjadi lonjakan testosteron singkat. Beberapa wanita mungkin mengalami peningkatan minyak, tetapi kulit umumnya tetap relatif bersih.
Fase Luteal (Hari 15–28): Setelah ovulasi, progesteron meningkat, menyebabkan kulit membengkak dan pori-pori menyempit, menjebak minyak.
Menjelang menstruasi, penurunan progesteron dan dominasi androgen meningkatkan produksi minyak, memicu jerawat.
Menstruasi (Hari 1–5 Siklus Baru): Hormon mereset, tetapi peradangan dari jerawat pramenstruasi mungkin masih terlihat.
3. Ciri-ciri jerawat hormonal
Jerawat hormonal sering muncul di area bawah wajah seperti dagu dan rahang, terutama menjelang menstruasi.
Jerawat ini biasanya bersifat inflamasi dan dapat berupa kista yang dalam dan nyeri.
4. Strategi pengelolaan jerawat hormonal
Rutinitas Perawatan Kulit yang Konsisten, gunakan pembersih lembut dan pelembap nonkomedogenik.
Produk dengan asam salisilat atau benzoyl peroxide dapat membantu membuka pori-pori. Pertimbangkan terapi hormonal seperti Pil KB atau terapi hormonal lainnya dapat membantu menstabilkan fluktuasi hormon yang memicu jerawat.
Pola makan sehat dan hidrasi, meskipun tidak ada makanan spesifik yang menyebabkan jerawat, diet kaya makanan utuh dan rendah gula olahan dapat mengurangi peradangan.
Minum cukup air mendukung kesehatan kulit. Hindari memencet jerawat, ini dapat memperburuk peradangan dan menyebabkan bekas luka.
Konsultasi dengan profesional kesehatan, jika jerawat parah atau persisten, konsultasikan dengan dokter kulit atau ginekolog untuk perawatan yang disesuaikan.
Penulis: Nia Herlina [Pengurus PKK Kabupaten Indramayu]


