28.6 C
Indramayu
Kamis, Januari 15, 2026


Janganlah Sekali-kali Mengatakan hal ini…, Jika Ditimpa suatu Musibah

ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Alloh Azza wa Jalla lebih mencintai sebagian kaum Muslimin daripada kaum Muslimin lainnya.

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

- Advertisement -

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu.

Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan:

‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu setan.” [H.R. Muslim, no. 2664].

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam kitab Bahjatu Qulûbil Abrâr wa Qurratu ‘Uyûnil Akhbâr fi Syarhi Jawâmi’il Akhbâr dan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy dalam Kitab Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih al Utsaimin, & Kitab Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin menjelaskan faedah hadist di antaranya:

Baca Juga :  Ketika Alloh Azza wa Jalla Menjadikan Seseorang Merasa Nyaman Berbuat Kemaksiatan

Pertama, ketetapan sifat mahabbah (cinta) bagi Allâh Azza wa Jalla sesuai dengan keagungan dan kemulian-Nya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah.”

Kedua, Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Mencintai, dan kecintaan Allâh Azza wa Jalla kepada orang-orang Mukmin berbeda-beda. Dia lebih mencintai sebagian kaum Muslimin daripada kaum Muslimin lainnya.

Ketiga, maksud mukmin yang kuat di sini adalah mukmin yang kuat imannya. Bukan yang dimaksudkan dengan kuat di sini adalah mukmin yang kuat badannya.

Karena kuatnya badan biasanya akan menimbulkan bahaya jika kekuatan tersebut digunakan dalam hal maksiat. Namun pada asalnya, kuat badan tidak mesti terpuji dan juga tidak mesti tercela.

Jika kekuatan tersebut digunakan untuk hal yang bermanfaat untuk urusan dunia dan akhirat, maka pada saat ini terpuji. Namun jika sebaliknya, digunakan dalam perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala, maka pada saat inilah tercela.

Baca Juga :  Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Melarang Sahabatnya Memanggil Dirinya Sayyid

Keempat, ada perbedaan antara manusia dalam hal keimanan, ada yang kuat dan ada yang lemah.

Kelima, iman itu mencakup perkataan dan perbuatan. Iman bisa bertambah dengan sebab ketaatan dan bisa berkurang dengan sebab perbuatan maksiat. (bersambung)

Penulis: Wawan Idris
Sumber: bimbinganislam.com

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

Berita Terpopuler