ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Di sebuah majelis, para sahabat duduk melingkar dengan penuh adab.
Para sahabat begitu fokus menyimak ilmu agama yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam suasana yang begitu tenang itu seorang sahabat tampak begitu gelisah. Wajahnya tertunduk, jemarinya saling menggenggam, seolah ada beban berat yang menekan hatinya.
Ia menghela napas panjang, lalu berkata lirih, “Wahai Rasulullah… aku ingin bertanya. Tapi aku takut…, pertanyaanku membuatku semakin malu di hadapan Allah Azza wa Jalla.”
Rasulullah menatapnya dengan senyum penuh kasih dan kelembutan. “Katakanlah wahai saudaraku. Tidak ada pertanyaan yang membuat seseorang hina, jika ia bertanya untuk mencari kebaikan.”
Sahabat itu mengangkat wajahnya perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Wahai Rasulullah… shalatku sering tidak khusyuk. Kadang pikiranku melayang, teringat urusan dunia. Aku takut shalatku tidak diterima. Apakah shalat seperti itu aku tetap mendapatkan pahala?”
Majelis seketika hening. Para sahabat lain ikut menunduk. Mereka merasakan kegundahan yang sama. Apakah di antara mereka ada yang tidak pernah teralihkan mengingat Alloh Azza wa Jalla dalam shalatnya?
Rasulullah tidak langsung menjawab. Beliau memandang sahabat tersebut dalam-dalam dan air mata mulai jatuh di pipi beliau. Para sahabat terpana. Jarang sekali mereka melihat Rasulullah menangis pada keadaan seperti ini.
Dengan suara bergetar, Rasulullah bersabda:
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya…. Setan tidak akan pernah berhenti mencuri bagian dari shalat seorang hamba, hingga ia teralihkan. Tetapi ketahuilah… Allah tetap melihat usahamu.”
Beliau menghela napas, lalu melanjutkan:
”Jika engkau meninggalkan shalat hanya karena takut tidak khusyuk, maka setan menang. Tetapi jika engkau tetap menegakkan shalat, meski pikiranmu terganggu…, maka setiap kali engkau berusaha kembali kepada Allah, saat itulah Allah menyambutmu.”
Sahabat itu menangis. Para sahabat lainnya pun tak kuasa menahan air mata.
Sejak hari itu, sahabat yang bertanya tidak pernah lagi putus asa dalam shalatnya. Setiap kali hatinya teralihkan, ia kembali mengingat sabda Rasulullah:
“Setiap kali engkau berusaha kembali…, saat itulah Allah menyambutmu.”
Penulis : Wawan Idris
Sumber: Disarikan dari berbagai sumber


